Mikrotik : Hotspot Dasar: Difference between revisions
Tambah materi MikroTik Hotspot dasar |
m Protected "Mikrotik : Hotspot Dasar": Artikel editorial WIKI TKJ ([Edit=Allow only administrators] (indefinite) [Move=Allow only administrators] (indefinite)) |
(No difference)
| |
Latest revision as of 07:02, 10 August 2026
Mikrotik : Hotspot Dasar
Hotspot di MikroTik adalah fitur untuk membuat halaman login sebelum client boleh memakai internet. Kalau diibaratkan jaringan sekolah, Hotspot itu seperti meja satpam di gerbang lab: siswa boleh masuk area WiFi/LAN, tetapi sebelum boleh lewat ke internet mereka harus memperkenalkan diri dulu dengan username dan password.
Di dunia kerja, konsep seperti ini sering dipakai di jaringan tamu kantor, kafe, sekolah, hotel kecil, ruang tunggu, atau lab praktik. Tujuannya bukan sekadar "biar ada halaman login", tetapi supaya akses client lebih terkontrol, mudah dipantau, dan bisa diberi batas sederhana seperti masa aktif atau limit bandwidth.
Materi ini membahas Hotspot dasar di RouterOS untuk lab SMK/TKJ. Fokusnya adalah memahami alur, membuat Hotspot di interface LAN/bridge, membuat user, mengecek client aktif, dan menangani masalah umum.
Tujuan
Setelah praktik ini, kamu diharapkan bisa:
- memahami fungsi Hotspot atau captive portal di MikroTik;
- menyiapkan Hotspot pada interface LAN, bukan pada interface WAN;
- membuat user Hotspot lokal di router;
- login dari client melalui browser;
- mengecek user aktif dan host yang terhubung;
- melakukan troubleshooting dasar saat halaman login tidak muncul atau internet belum jalan.
Gambaran Cara Kerja Hotspot
Alur sederhananya seperti ini:
- client tersambung ke WiFi atau kabel LAN;
- client mendapat IP dari DHCP Server;
- client mencoba membuka website;
- MikroTik menahan akses dan mengarahkan client ke halaman login Hotspot;
- client memasukkan username dan password;
- setelah berhasil, client boleh lewat ke internet sesuai aturan yang diberikan.
Jadi Hotspot bukan pengganti IP address, DHCP, DNS, NAT, atau firewall. Hotspot berdiri di atas pondasi itu. Kalau IP LAN, DHCP, DNS, gateway, dan NAT masih bermasalah, Hotspot juga akan ikut bermasalah.
Kebutuhan Awal
Contoh lab pada materi ini:
| Bagian | Contoh |
|---|---|
| Interface WAN | ether1 |
| Interface LAN | bridge-LAN |
| IP LAN router | 192.168.10.1/24 |
| Pool client | 192.168.10.10-192.168.10.200 |
| DNS name Hotspot | login.lab.local |
| User uji coba | siswa1 |
Sebelum mulai, pastikan:
- router sudah punya IP LAN pada `bridge-LAN`;
- DHCP Server LAN sudah jalan;
- client bisa mendapat IP otomatis;
- router sudah punya akses internet dari WAN;
- NAT masquerade untuk client LAN sudah aktif;
- kamu login sebagai admin atau user yang punya hak konfigurasi.
Catatan penting: kalau LAN kamu belum memakai bridge, sesuaikan nama interface dengan kondisi lab. Namun kalau beberapa port LAN dan WiFi digabung, Hotspot biasanya dipasang pada interface bridge, bukan pada salah satu port anggota bridge.
Cek Pondasi Sebelum Hotspot
Jalankan pengecekan berikut di terminal MikroTik:
/ip address print
/ip dhcp-server print
/ip dhcp-server lease print
/ip dns print
/ip route print
/ip firewall nat print
Yang dicari:
- IP `192.168.10.1/24` ada di `bridge-LAN`;
- DHCP Server aktif pada `bridge-LAN`;
- client mendapat lease DHCP;
- DNS router sudah diisi atau `allow-remote-requests=yes` jika router menjadi DNS untuk client;
- default route ke internet aktif;
- NAT masquerade dari LAN ke WAN sudah ada.
Kalau bagian ini belum beres, rapikan dulu. Membuat Hotspot di atas jaringan yang belum sehat biasanya bikin troubleshooting jadi muter-muter.
Membuat Hotspot dengan Setup Wizard
Cara paling aman untuk pemula adalah memakai wizard bawaan RouterOS:
/ip hotspot setup
Ikuti pertanyaan yang muncul. Contoh jawaban untuk lab:
| Pertanyaan Wizard | Contoh Jawaban | Catatan |
|---|---|---|
| hotspot interface | bridge-LAN | Pilih interface LAN atau bridge LAN, jangan WAN |
| local address of network | 192.168.10.1/24 | IP gateway LAN |
| masquerade network | no | Pilih `no` kalau NAT masquerade sudah dibuat sebelumnya |
| address pool of network | 192.168.10.10-192.168.10.200 | Bisa disamakan dengan pool LAN lab |
| select certificate | none | Untuk lab dasar boleh `none`; produksi sebaiknya pakai HTTPS/sertifikat |
| ip address of smtp server | 0.0.0.0 | Tidak dipakai pada lab dasar |
| dns servers | 1.1.1.1,8.8.8.8 | Sesuaikan DNS yang dipakai |
| dns name | login.lab.local | Nama lokal halaman login Hotspot |
| name of local hotspot user | siswa1 | User pertama untuk uji coba |
| password for the user | praktik123 | Gunakan password lab, jangan password admin router |
Setelah selesai, cek hasilnya:
/ip hotspot print
/ip hotspot profile print
/ip hotspot user print
Kalau Hotspot aktif, akan muncul server Hotspot pada interface `bridge-LAN`.
Membuat User Hotspot Tambahan
Untuk menambah user lokal:
/ip hotspot user add name=siswa2 password=praktik123
/ip hotspot user add name=siswa3 password=praktik123
Kalau ingin memberi batas bandwidth sederhana, buat user profile:
/ip hotspot user profile add name=profile-siswa rate-limit=2M/2M shared-users=1
/ip hotspot user add name=siswa4 password=praktik123 profile=profile-siswa
Arti contoh di atas:
- `rate-limit=2M/2M` membatasi upload/download sekitar 2 Mbps;
- `shared-users=1` membuat satu akun hanya dipakai oleh satu client aktif.
Untuk lab sekolah, ini cukup untuk mengenalkan konsep akun, sesi login, dan pembatasan sederhana.
Uji dari Client
Dari laptop atau HP client:
- sambungkan ke WiFi/LAN lab;
- pastikan client mendapat IP, gateway, dan DNS dari DHCP;
- buka browser;
- coba akses website HTTP atau ketik `http://login.lab.local`;
- masukkan username dan password Hotspot;
- setelah login, coba buka website lain.
Kadang perangkat modern membuka halaman captive portal otomatis. Kalau tidak muncul otomatis, buka browser secara manual.
Verifikasi di MikroTik
Cek client yang sudah login:
/ip hotspot active print
Cek semua host yang terdeteksi oleh Hotspot, baik sudah login maupun belum:
/ip hotspot host print
Cek log terkait Hotspot:
/log print where topics~"hotspot"
Cek user yang ada:
/ip hotspot user print
Kalau ingin memutus sesi user tertentu, lihat nomor baris pada active list, lalu:
/ip hotspot active remove numbers=0
Sesuaikan `numbers=0` dengan nomor sesi yang ingin diputus.
Troubleshooting
Halaman Login Tidak Muncul
Cek ini dulu:
/ip hotspot print
/ip hotspot host print
/ip dhcp-server lease print
/ip dns print
Kemungkinan penyebab:
- client belum dapat IP DHCP;
- Hotspot dipasang pada interface yang salah;
- Hotspot dipasang pada port anggota bridge, bukan pada `bridge-LAN`;
- DNS client tidak benar;
- client membuka website HTTPS dan browser tidak otomatis menampilkan portal;
- firewall terlalu ketat dan memblokir alur Hotspot.
Solusi cepat: buka `http://login.lab.local` atau coba buka website HTTP biasa dari browser.
Login Berhasil tetapi Internet Tidak Jalan
Cek:
/ip route print
/ip firewall nat print
/tool ping 8.8.8.8
/tool ping google.com
Kemungkinan penyebab:
- default route WAN belum aktif;
- NAT masquerade belum benar;
- DNS belum bisa resolve nama domain;
- firewall forward memblokir trafik client;
- interface LAN/WAN tertukar.
Ingat, Hotspot hanya menjaga gerbang login. Jalan menuju internet tetap perlu route, DNS, NAT, dan firewall yang benar.
User Tidak Bisa Login
Cek:
/ip hotspot user print detail
/log print where topics~"hotspot"
Kemungkinan penyebab:
- username atau password salah;
- user disabled;
- profile user terlalu ketat;
- akun sedang aktif di perangkat lain sementara `shared-users=1`;
- waktu aktif user sudah habis jika memakai limit.
Client Muncul di Host tetapi Tidak di Active
Ini biasanya berarti client sudah terdeteksi oleh Hotspot, tetapi belum login. Arahkan client ke halaman login, lalu cek lagi:
/ip hotspot active print
Catatan Keamanan
Hotspot dasar cocok untuk lab dan jaringan tamu kecil, tetapi jangan dianggap sebagai keamanan penuh.
Beberapa catatan penting:
- jangan pasang Hotspot di interface WAN;
- jangan mencampur interface publik ke bridge LAN Hotspot;
- jangan memakai password admin router sebagai password user Hotspot;
- untuk jaringan produksi, pertimbangkan HTTPS login dan sertifikat yang valid;
- hindari `http-pap` untuk lingkungan serius karena password bisa terkirim lebih terbuka;
- untuk banyak user, audit, atau integrasi voucher, pertimbangkan RADIUS/User Manager;
- gunakan firewall tetap sebagai penjaga utama router;
- gunakan walled garden secukupnya saja, jangan terlalu banyak membuka akses tanpa login;
- jelaskan aturan penggunaan jaringan kepada pengguna, terutama kalau jaringan dipakai di sekolah atau tempat umum.
Hotspot itu seperti meja registrasi. Ia membantu mencatat dan mengatur tamu, tetapi pagar, pintu, kamera, dan aturan ruangan tetap perlu ada.
Kapan Perlu RADIUS atau User Manager?
User lokal di router cukup untuk lab kecil. Tetapi kalau jaringan sudah dipakai banyak orang, misalnya ratusan siswa atau banyak voucher tamu, pengelolaan manual akan melelahkan.
Pertimbangkan RADIUS/User Manager kalau butuh:
- banyak akun atau voucher;
- masa aktif otomatis;
- pencatatan pemakaian yang lebih rapi;
- limit berdasarkan paket;
- manajemen user yang lebih mudah dipelihara.
Untuk tahap dasar, pahami Hotspot lokal dulu. Setelah alurnya paham, baru naik ke manajemen user yang lebih serius.
Kesimpulan
Hotspot MikroTik membantu membuat halaman login untuk client sebelum mereka memakai internet. Dalam lab TKJ, fitur ini bagus untuk mengenalkan captive portal, user login, sesi aktif, dan kontrol akses jaringan tamu.
Urutan belajarnya jangan dibalik. Pastikan IP LAN, DHCP, DNS, gateway, NAT, dan firewall dasar sudah sehat dulu. Setelah itu Hotspot menjadi lapisan tambahan yang lebih mudah dipahami dan lebih mudah ditroubleshoot.
Materi terkait
- Mikrotik : DHCP Server untuk LAN
- Mikrotik : DNS dan Default Gateway Dasar
- Mikrotik : NAT Masquerade agar Client Bisa Internet
- Mikrotik : Bridge LAN Dasar
- Mikrotik : Firewall Filter Dasar
- Mikrotik : Monitoring Dasar dengan Torch Traffic Log dan Resource