Mikrotik : Queue Sederhana untuk Bandwidth Management

edit edit source

Setelah mengikuti materi ini, kamu diharapkan bisa:

  • memahami fungsi queue di MikroTik untuk mengatur pemakaian bandwidth;
  • membedakan pembatasan sederhana per client, per subnet, dan pembagian rata memakai PCQ;
  • membuat Simple Queue dasar lewat Winbox/WebFig dan terminal;
  • mengecek apakah queue benar-benar bekerja;
  • mengenali masalah umum seperti FastTrack, target salah, dan urutan queue.

Di lab sekolah, biasanya ada banyak perangkat: PC siswa, laptop guru, HP untuk presensi, access point, bahkan kadang server lokal. Kalau semua perangkat bebas memakai internet tanpa aturan, satu laptop yang download file besar bisa membuat perangkat lain terasa lambat.

Queue di MikroTik bisa dibayangkan seperti petugas bengkel yang mengatur jalur kendaraan. Kendaraan tetap boleh lewat, tetapi tidak semuanya boleh ngebut sesuka hati. Ada jalur untuk siswa, ada jalur untuk guru, dan ada batas supaya jalan tidak habis dipakai satu orang saja.

Di industri, bandwidth management masih kepakai untuk kantor kecil, jaringan sekolah, hotspot, guest WiFi, cabang usaha, dan lab training. Tujuannya bukan membuat internet jadi pelan, tetapi membuat koneksi lebih adil dan mudah dipantau.

Konsep singkat

edit edit source

Queue adalah fitur RouterOS untuk mengatur antrean paket data. Menurut dokumentasi MikroTik, queue dapat dipakai untuk membatasi data rate alamat IP/subnet tertentu, memprioritaskan trafik, membuat burst, memakai batas berbasis waktu, dan membagi trafik antar pengguna.

Di RouterOS ada dua jalur besar:

  • Simple Queue - cocok untuk kebutuhan harian yang sederhana, misalnya membatasi satu client, satu subnet, atau satu jaringan siswa.
  • Queue Tree - cocok untuk skenario lebih lanjut, biasanya memakai packet mark dari firewall mangle.

Untuk materi dasar ini, kita fokus ke Simple Queue dulu. Queue Tree dan mangle lebih enak dipelajari setelah konsep queue dasar terasa jelas.

Istilah penting

edit edit source
  • target - alamat IP, subnet, atau interface yang mau diatur.
  • max-limit - batas maksimal upload/download.
  • limit-at - jatah minimal yang ingin dijamin saat bandwidth tersedia dan struktur parent/child queue dipakai.
  • upload - trafik dari client menuju luar jaringan.
  • download - trafik dari luar jaringan menuju client.
  • PCQ - Per Connection Queue, tipe queue yang berguna untuk membagi bandwidth lebih merata ke banyak client.

Catatan penting: pada Simple Queue MikroTik, format umum limit adalah upload/download. Jadi `max-limit=5M/20M` berarti upload maksimal 5 Mbps dan download maksimal 20 Mbps untuk target tersebut.

Kebutuhan awal

edit edit source

Sebelum praktik, siapkan:

  • router MikroTik RouterOS yang bisa diakses lewat Winbox, WebFig, atau terminal;
  • jaringan LAN sudah memiliki IP address dan DHCP Server;
  • client sudah bisa internet lewat NAT masquerade;
  • kamu tahu subnet yang ingin dibatasi, misalnya `192.168.20.0/24`;
  • jika memakai FastTrack, siap menyesuaikan rule karena trafik FastTrack bisa melewati Simple Queue.

Contoh topologi sederhana:

  • `ether1` = WAN ke modem/ISP
  • `bridge-LAN` = jaringan client
  • `192.168.20.0/24` = jaringan siswa atau VLAN siswa

Praktik 1: Membatasi satu client

edit edit source

Skenario: satu laptop siswa dengan IP `192.168.20.25` dibatasi upload 2 Mbps dan download 5 Mbps.

Lewat Winbox/WebFig

edit edit source
  1. Masuk ke menu Queues.
  2. Buka tab Simple Queues.
  3. Klik tombol tambah.
  4. Isi Name dengan `limit-laptop-siswa`.
  5. Isi Target dengan `192.168.20.25`.
  6. Pada bagian Max Limit:
    • Target Upload = `2M`
    • Target Download = `5M`
  7. Klik OK atau Apply.

Lewat terminal

edit edit source
/queue simple
add name="limit-laptop-siswa" target=192.168.20.25/32 max-limit=2M/5M comment="Batas 1 laptop siswa"

Praktik 2: Membatasi satu subnet LAN

edit edit source

Skenario: seluruh jaringan siswa `192.168.20.0/24` diberi batas total upload 10 Mbps dan download 30 Mbps.

/queue simple
add name="limit-jaringan-siswa" target=192.168.20.0/24 max-limit=10M/30M comment="Batas total jaringan siswa"

Model ini cocok kalau kamu ingin memberi batas total untuk satu kelompok. Tetapi ingat, ini belum otomatis membagi rata per siswa. Kalau satu client sangat aktif, ia masih bisa mengambil porsi besar selama masih berada di bawah batas total queue.

Praktik 3: Membagi lebih rata dengan PCQ sederhana

edit edit source

Kalau targetnya banyak client dan kamu ingin pembagian lebih adil, PCQ lebih cocok. Analogi sederhananya: bukan cuma memberi pagar batas pada satu jalan besar, tetapi membuat loket antrean per kendaraan supaya satu kendaraan tidak mendominasi.

Contoh: jaringan siswa `192.168.20.0/24`, tiap client kira-kira mendapat upload 2 Mbps dan download 5 Mbps.

Buat queue type PCQ

edit edit source
/queue type
add name="pcq-upload-siswa" kind=pcq pcq-rate=2M pcq-classifier=src-address
add name="pcq-download-siswa" kind=pcq pcq-rate=5M pcq-classifier=dst-address

Penjelasan singkat:

  • `src-address` dipakai untuk membedakan sumber upload dari client.
  • `dst-address` dipakai untuk membedakan tujuan download ke client.
  • `pcq-rate` adalah batas per client/substream.

Pasang Simple Queue memakai PCQ

edit edit source
/queue simple
add name="pcq-jaringan-siswa" target=192.168.20.0/24 queue=pcq-upload-siswa/pcq-download-siswa max-limit=20M/50M comment="Pembagian rata jaringan siswa"

Pada contoh di atas:

  • upload total jaringan dibatasi sampai 20 Mbps;
  • download total jaringan dibatasi sampai 50 Mbps;
  • tiap client dibagi memakai queue type PCQ.

Sesuaikan angka dengan bandwidth asli dari ISP. Jangan menulis angka lebih besar dari kapasitas nyata link kalau tujuanmu adalah kontrol yang stabil.

Gunakan beberapa cara berikut.

Cek daftar queue

edit edit source
/queue simple print

Pastikan queue tidak `disabled` dan target sesuai dengan IP/subnet client.

Cek statistik queue

edit edit source
/queue simple print stats

Perhatikan kolom seperti rate, bytes, packets, queued, dan dropped. Kalau client sedang memakai internet tetapi angka tetap nol, kemungkinan trafik tidak masuk ke queue yang benar.

Uji dari client

edit edit source
  1. Sambungkan client ke jaringan yang menjadi target queue.
  2. Jalankan download atau speed test seperlunya.
  3. Lihat apakah kecepatan mendekati batas queue.
  4. Cek lagi statistik queue di MikroTik.

Untuk lab sekolah, uji secukupnya saja. Jangan terlalu sering menjalankan speed test di jam ramai karena bisa menghabiskan kuota atau mengganggu pengguna lain.

Troubleshooting

edit edit source

Queue tidak terbaca trafik

edit edit source

Kemungkinan penyebab:

  • IP target salah;
  • client mendapat IP dari subnet berbeda;
  • queue berada di bawah queue lain yang lebih dulu menangkap trafik;
  • FastTrack masih aktif untuk trafik tersebut;
  • client tidak melewati router MikroTik yang sama.

Cek dengan:

/ip dhcp-server lease print
/queue simple print stats
/ip firewall filter print

Batas queue tidak terasa

edit edit source

Cek beberapa hal:

  • angka `max-limit` terlalu tinggi dibanding bandwidth ISP;
  • satuan salah, misalnya menulis `50M` padahal link hanya 20 Mbps;
  • rule FastTrack membuat trafik melewati Simple Queue;
  • pengujian dilakukan dari client yang tidak masuk target queue.

Jika memakai konfigurasi default MikroTik dan ada rule FastTrack, dokumentasi MikroTik mencatat bahwa FastTrack dapat membuat Simple Queue tidak bekerja untuk trafik tersebut. Untuk lab dasar, kamu bisa menonaktifkan sementara rule FastTrack saat menguji queue, lalu dokumentasikan perubahan tersebut.

Internet jadi terasa terlalu lambat

edit edit source

Jangan langsung menyalahkan queue. Cek dulu:

  • resource router, terutama CPU;
  • traffic interface WAN dan LAN;
  • jumlah client aktif;
  • apakah ada download besar dari satu atau beberapa client;
  • apakah DNS dan gateway client benar.

Gunakan materi monitoring dasar supaya diagnosisnya tidak menebak-nebak.

Catatan keamanan dan etika

edit edit source

Bandwidth management harus dipakai secara transparan dan wajar. Di sekolah atau kantor, aturan batas bandwidth sebaiknya jelas: jaringan siswa, guru, tamu, dan perangkat penting bisa punya kebijakan berbeda.

Jangan memakai queue untuk diam-diam mengganggu pengguna tertentu tanpa alasan operasional. Kalau perlu membatasi perangkat karena mengganggu jaringan, catat alasannya dan komunikasikan ke pihak yang berwenang.

Queue juga bukan pengganti firewall. Queue mengatur kecepatan jalur, sedangkan firewall mengatur siapa boleh lewat dan trafik apa yang boleh masuk/keluar.

Simple Queue adalah langkah awal yang praktis untuk bandwidth management di MikroTik. Untuk satu client atau satu subnet, cukup tentukan target dan max-limit. Untuk banyak client yang perlu dibagi lebih rata, PCQ bisa membantu supaya pemakaian bandwidth tidak dimonopoli satu perangkat.

Setelah materi ini, kamu sudah punya bekal untuk membuat aturan dasar di lab. Langkah berikutnya adalah membiasakan diri membaca statistik queue dan menghubungkannya dengan Torch, traffic interface, DHCP lease, serta log agar troubleshooting lebih rapi.

Materi terkait

edit edit source