Cisco : Membangun Topologi Lab Sekolah di Packet Tracer

Revision as of 07:02, 1 November 2026 by Maintenance script (talk | contribs) (Artikel konsep inti: membangun topologi lab sekolah di Packet Tracer (Gaya Editorial v2))
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision β†’ (diff)

Topologi di Packet Tracer bukan gambar hiasan. Satu ikon yang salah tempat, satu port yang sudah terpakai, atau satu kabel yang salah jenis bisa membuat kamu berjam-jam mengejar masalah yang sebenarnya tidak pernah ada.

Artikel ini membahas cara membangun topologi lab sekolah dengan urutan yang benar: kertas dulu, aplikasi kemudian.

🎯 Tujuan

Setelah membaca dan mempraktikkan artikel ini, kamu diharapkan mampu:

  • Menjelaskan beda topologi di kertas, topologi logis, dan topologi fisik.
  • Menghitung kebutuhan port sebelum menyeret perangkat ke Packet Tracer.
  • Memilih jenis kabel berdasarkan siapa bertemu siapa, bukan berdasarkan kebiasaan.
  • Menyusun skema VLAN dan alamat IP yang tidak bentrok dengan layanan sekolah.
  • Membangun topologi lab 2 ruang yang siap dipakai ujian, lengkap dengan bukti bahwa topologi itu benar.

Satu kalimat kunci yang perlu kamu bawa sampai akhir: gambar topologi adalah niat, sedangkan yang dilihat perangkat adalah kenyataan. Tugasmu membuat keduanya sama.

πŸ“ Konteks nyata

Bayangkan kamu diminta menyiapkan bengkel. Kamu tidak mulai dari membeli kunci pas. Kamu mulai dari denah: berapa meja, di mana stop kontak, di mana pintu, siapa yang lewat jalur mana.

Membangun jaringan juga begitu. Perangkat baru masuk setelah denahnya jelas.

Masalahnya, di Packet Tracer semua terasa gratis. Mau tambah switch? Klik. Mau tambah kabel? Tarik. Tidak ada biaya, tidak ada tukang, tidak ada kabel yang kurang panjang.

Akibatnya banyak siswa (dan kadang teknisi) membangun topologi sambil jalan. Hasilnya begini:

  • Switch sudah penuh, padahal uplink ke switch sebelah belum dipasang.
  • Dua DHCP server hidup bersamaan karena AP dibiarkan mode router.
  • Alamat server masuk ke dalam rentang DHCP, lalu bentrok saat ujian.
  • Gambar di layar rapi, tapi ping antar-VLAN tetap gagal karena port trunk belum benar.

Semua gejala di atas bukan masalah konfigurasi rumit. Akarnya satu: topologi dibangun tanpa rencana.

πŸ”₯ Kasus nyata: Lab TKJ sebuah SMK punya dua ruang praktik. Ruang B hanya tersambung ke ruang A lewat satu kabel uplink yang dipasang di Fa0/24 β€” port yang sama dipakai PC guru. Setiap kali guru menyalakan PC-nya, kabel uplink dicabut. Tiga hari praktik VLAN gagal, kabel diganti dua kali, dan switch sempat dituduh rusak. Penyebab aslinya: tidak pernah ada tabel port. Satu baris di kertas bisa menghemat tiga hari.

🧠 Konsep singkat

πŸ”Ή Tiga gambar yang harus kamu bedakan

Banyak orang mencampur tiga hal ini, lalu bingung sendiri.

Jenis Isi Pertanyaan yang dijawab
Topologi di kertas daftar ruang, jumlah PC, layanan, rencana alamat "Apa yang mau dibangun?"
Topologi logis perangkat + kabel di tab Logical "Siapa terhubung ke siapa?"
Topologi fisik rak, wiring closet, jalur kabel "Barangnya ditaruh di mana?"

Ketiganya wajib ada. Topologi logis tanpa rencana di kertas = menggambar tanpa tujuan. Topologi fisik yang diabaikan = file latihan yang tidak mirip sekolah mana pun.

πŸ’‘ Tips: Sebelum menyeret perangkat pertama, tulis dulu di buku: jumlah PC per ruang, jumlah layanan (server, printer, AP), dan siapa saja yang boleh saling bicara. Lima menit di kertas menghemat satu jam klik-klik.

πŸ”Ή Hitung port sebelum menyeret perangkat

Port switch bukan hanya untuk PC. Ada tiga pemakai yang sering dilupakan: uplink, server/AP, dan cadangan.

Aturan praktisnya: sisakan sekitar 10–20 persen port kosong. Kalau semua port penuh di hari pertama, kamu tidak punya tempat untuk uji coba.

Contoh anggaran port untuk lab dua ruang:

Perangkat Port tersedia Rencana pakai Sisa
SW-A 2960-24TT 24 FE + 2 GE 24 PC Lab A, G0/1 uplink ke router 1 GE
SW-B 2960-24TT 24 FE + 2 GE 12 PC Lab B, 4 PC guru, 1 server, 1 AP, G0/1 uplink ke SW-A 5 FE + 1 GE
R1 2911 3 GE G0/0 ke SW-A, G0/1 ke ISP 1 GE

πŸ“Š Angka penting: Switch 24 port bukan berarti 24 PC. Dua port Gigabit di 2960-24TT memang disediakan untuk uplink β€” pakai itu, jangan meminjam port FastEthernet milik PC.

πŸ”Ή Bentuk topologi: dua lapis sudah cukup

Sekolah tidak butuh desain data center tiga lapis. Untuk lab dengan 40 PC, bentuk paling waras adalah:

  • Access β€” switch yang menampung PC. Semua PC menempel di sini.
  • Distribution β€” router (atau switch L3) yang jadi gateway antar-VLAN dan jalan keluar.

Switch access disambung ke distribution dengan satu jalur. Kalau kamu menambah jalur kedua untuk "biar cepat", spanning tree akan memblokir satu jalur itu.

⚠️ Hati-hati: Dua kabel antar switch yang sama tidak menambah kecepatan. Yang terjadi: satu port berstatus Altn BLK dan siswa mengira kabelnya mati. Ini perilaku normal STP, bukan kerusakan.

πŸ”Ή Kabel dipilih dari "siapa bertemu siapa"

Aturan dasarnya sederhana dan sudah lama dipakai:

  • Beda lapisan (switch ke PC, switch ke router) β†’ copper straight-through.
  • Sama lapisan (switch ke switch, PC ke PC) β†’ copper cross-over.
  • Console β†’ kabel console dari PC ke port console router/switch.

Packet Tracer mengikuti aturan itu. Dokumentasi resminya menyebut straight-through untuk perangkat yang berbeda lapisan OSI, dan cross-over untuk perangkat yang sama lapisan.

Dari Ke Kabel
PC, server, AP port access switch Copper Straight-Through
Switch switch Copper Cross-over (klasik), straight-through bila Auto-MDIX aktif
Router switch Copper Straight-Through
PC console router/switch Console
Router router lewat WAN Serial DCE ke DTE, clocking di sisi DCE
Switch switch antar gedung Fiber (multimode; single-mode butuh modul khusus)

Untuk kabel console ada syarat yang jarang dibahas: kecepatan kedua sisi harus sama, data bits harus 7-7 atau 8-8, parity harus sama, dan stop bits boleh 1 atau 2. Kalau salah satu beda, sesi console tidak jalan walau kabelnya benar.

Untuk link serial, sisi DCE wajib diberi clock rate. Di Packet Tracer, sisi DCE ditandai ikon jam kecil di dekat port β€” dan perangkat pertama yang kamu pilih saat menarik kabel Serial DCE otomatis jadi sisi DCE.

πŸ“Š Angka penting: Modul fiber GLC-LH-SMD dan GLC-LX-SM-RGD adalah single-mode dan hanya mau kabel single-mode. Modul fiber lain di Packet Tracer bersifat multimode.

πŸ’‘ Tips: Banyak port modern punya Auto-MDIX, jadi kabel "salah" tetap menyala. Menyala bukan berarti benar. Kalau kamu belajar untuk ujian, biasakan pakai kabel sesuai aturan supaya kebiasaannya ikut benar di lapangan.

πŸ”Ή Alamat: tulis dulu, baru nyalakan DHCP

Skema alamat yang rapi punya tiga ciri: satu VLAN satu subnet, gateway di ujung bawah, dan blok statis dipisahkan dari blok DHCP.

VLAN Nama Subnet Gateway
10 SISWA 10.10.10.0/24 10.10.10.1
20 GURU 10.10.20.0/24 10.10.20.1
30 TAMU 10.10.30.0/24 10.10.30.1
99 MANAJEMEN 10.10.99.0/24 10.10.99.1

Lalu bagi tiap subnet menjadi tiga blok:

  • .1 sampai .20 β€” perangkat jaringan dan cadangan.
  • .21 sampai .200 β€” pool DHCP untuk PC.
  • .201 sampai .254 β€” perangkat statis (server, printer, proyektor).

πŸ“Š Angka penting: Satu /24 berisi 254 alamat yang bisa dipakai. Server dan printer wajib di luar pool DHCP, atau alamatnya akan diserahkan ke PC lain dan terjadi bentrok.

⚠️ Hati-hati: AP yang dibiarkan mode router akan menyalakan DHCP sendiri. Siswa yang lewat WiFi dapat alamat 192.168.0.x, bisa ping tetangga, tapi tidak bisa membuka server nilai. Satu lab bisa kehilangan satu sesi praktik hanya karena satu kotak kecil lupa dijadikan mode access point.

πŸ”Ή Nama dan label adalah dokumentasi termurah

Beri nama perangkat dengan pola yang bisa dibaca mesin dan manusia, misalnya:

SMK-LABA-SW1
SMK-LABB-SW1
SMK-LAB-R1
PC-SISWA-A01

Lalu isi deskripsi interface-nya. Ini pekerjaan 5 detik yang bisa menyelamatkan 30 menit:

interface FastEthernet0/1
 description ke PC-SISWA-A01

Hasilnya bisa dibaca kapan saja dengan show interfaces description. Teknisi yang datang setahun kemudian tidak perlu menebak.

πŸ”Ή Titik kebenaran: apa yang dilihat perangkat

Gambar di layar adalah keinginanmu. Yang dilihat perangkat adalah hasil nyata. Alat pembandingnya: show cdp neighbors.

Kalau perangkat yang kamu gambar tidak muncul di daftar tetangga, berarti sambungannya tidak benar β€” apa pun yang tampak di layar.

πŸ§ͺ Uji cepat: Jalankan show cdp neighbors di SW-A. Jumlah barisnya harus sama dengan jumlah perangkat yang benar-benar tersambung ke SW-A. Kurang satu? Ada kabel yang salah port atau salah jenis.

🧩 Istilah penting

Istilah Arti sederhana
Topologi fisik Letak barang: rak, ruang, jalur kabel
Topologi logis Peta sambungan antar perangkat di layar
Port budget Daftar port: dipakai untuk apa, sisa berapa
Uplink Jalur dari switch ke perangkat di atasnya
Access port Port yang melayani satu VLAN untuk perangkat akhir
Trunk Jalur yang membawa banyak VLAN sekaligus
Wiring closet Ruang kecil tempat switch dan panel kabel berkumpul
Auto-MDIX Fitur port yang otomatis membalik pasangan kabel
DCE dan DTE Dua sisi kabel serial; DCE yang memberi clock
Baseline Kondisi "sehat" yang dicatat sebelum ada masalah

Dua istilah tambahan yang sering tertukar di kepala siswa:

  • VLAN memisahkan siaran (broadcast), bukan memisahkan izin. Dua VLAN tetap bisa saling bicara kalau router meneruskan.
  • Trunk bukan "kabel besar". Trunk adalah kesepakatan memberi label VLAN di setiap frame.

πŸ”§ Praktik: Membangun Topologi Lab Sekolah di Packet Tracer

Target lab: dua ruang praktik, satu ruang guru, satu server nilai, satu AP tamu, dan satu jalur keluar ke ISP.

πŸ”Ή Langkah 1 β€” Kertas dulu, 15 menit

Tulis di buku atau notepad:

  1. Jumlah PC per ruang: Lab A 24, Lab B 12, ruang guru 4.
  2. Layanan: 1 server (CBT dan file), 1 AP tamu.
  3. Siapa boleh ke mana: siswa hanya ke server dan internet, guru ke semua VLAN.
  4. Alamat: pakai tabel VLAN di atas, jangan nomor rumah tetangga.

Kalau langkah ini dilewati, semua langkah berikutnya jadi tebak-tebakan.

πŸ”Ή Langkah 2 β€” Inventaris perangkat dan port

Seret perangkat berikut ke Logical Workspace:

  • 2 switch 2960-24TT (SW-A, SW-B)
  • 1 router 2911 (R1)
  • 1 Server-PT, 1 AccessPoint-PT
  • 40 PC-PT

Lalu tempel tabel port budget di dekatmu. Kalau jumlah PC bertambah, kamu tahu persis port mana yang bakal habis lebih dulu.

πŸ’‘ Tips: Taruh perangkat per blok, jangan berbaris rata. Blok kiri untuk Lab A, kanan untuk Lab B, atas untuk router dan server. Mata kamu akan berterima kasih saat membaca topologi 40 PC.

πŸ”Ή Langkah 3 β€” Sambung dari bawah ke atas

Urutan menyambung menentukan kualitas troubleshooting-mu nanti.

  1. Sambungkan semua PC Lab A ke Fa0/1 sampai Fa0/24 SW-A dengan straight-through.
  2. Sambungkan PC Lab B dan PC guru ke SW-B, server dan AP ikut di SW-B.
  3. Sambungkan SW-B ke SW-A lewat G0/1 ke G0/1.
  4. Sambungkan SW-A ke R1 lewat G0/2 ke G0/0.
  5. Sambungkan R1 G0/1 ke perangkat ISP.

Setelah tiap langkah, lihat lampu link. Lampu hijau di kedua ujung berarti lapisan fisik beres. Jangan lanjut sebelum itu.

⚠️ Hati-hati: Kalau kamu menyambung semua kabel dulu lalu baru memeriksa, satu kabel salah port akan tersembunyi di antara 40 kabel lain. Periksa per blok.

πŸ”Ή Langkah 4 β€” Nama, deskripsi, dan port parkir

Masuk ke tiap perangkat dan beri identitas:

hostname SMK-LABA-SW1
!
interface range FastEthernet0/1 - 24
 description port PC Lab A
!
interface GigabitEthernet0/1
 description uplink ke SW-B

Port yang belum dipakai jangan dibiarkan hidup di VLAN 1. Pindahkan ke VLAN parkir lalu matikan:

vlan 999
 name PARKIR
exit
interface range FastEthernet0/21 - 24
 switchport mode access
 switchport access vlan 999
 shutdown

πŸ”Ή Langkah 5 β€” VLAN dan trunk

Buat VLAN di kedua switch, lalu set trunk di jalur uplink:

vlan 10
 name SISWA
vlan 20
 name GURU
vlan 30
 name TAMU
vlan 99
 name MANAJEMEN
exit
interface GigabitEthernet0/1
 switchport mode trunk
 switchport trunk allowed vlan 10,20,99
 switchport nonegotiate

Sisi SW-A dibuat sama. Dua ujung trunk harus punya daftar VLAN yang cocok. Kalau satu sisi hanya mengizinkan VLAN 10, VLAN lain akan hidup-mati tanpa pesan error.

πŸ”Ή Langkah 6 β€” Gateway dan DHCP di router

Router yang jadi gateway antar-VLAN. Karena kabel ke switch berupa trunk, gateway dibuat sebagai subinterface:

interface GigabitEthernet0/0
 no shutdown
interface GigabitEthernet0/0.10
 encapsulation dot1Q 10
 ip address 10.10.10.1 255.255.255.0
interface GigabitEthernet0/0.20
 encapsulation dot1Q 20
 ip address 10.10.20.1 255.255.255.0

Lalu layanan DHCP untuk siswa dan guru:

ip dhcp excluded-address 10.10.10.1 10.10.10.20
ip dhcp pool SISWA
 network 10.10.10.0 255.255.255.0
 default-router 10.10.10.1
 dns-server 10.10.10.10

Server dibuat statis di 10.10.10.10 β€” di luar pool, sesuai rencana di kertas.

πŸ”Ή Langkah 7 β€” Jalur keluar

Lab sekolah tetap butuh internet. Pasang rute default ke ISP, lalu NAT agar alamat privat bisa keluar:

ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 203.0.113.2
!
interface GigabitEthernet0/1
 ip nat outside
interface GigabitEthernet0/0.10
 ip nat inside
access-list 1 permit 10.10.0.0 0.0.255.255
ip nat inside source list 1 interface GigabitEthernet0/1 overload

Alamat 203.0.113.x dipakai karena itu blok dokumentasi. Jangan pakai alamat internet nyata di file latihan.

πŸ”Ή Langkah 8 β€” Pindah ke Physical Workspace

Ini bagian yang paling sering dilewat, padahal paling mirip dunia kerja.

Buka tab Physical. Semua perangkat yang kamu buat di Logical otomatis berkumpul di satu wiring closet. Dari sana:

  1. Buat gedung dan ruangan sesuai denah sekolah.
  2. Pindahkan switch ke wiring closet, PC ke ruang lab.
  3. Perhatikan panjang kabel β€” Packet Tracer tidak menghukum kabel 200 meter, tapi realitanya tidak begitu.

πŸ“Š Angka penting: Standar kabel tembaga memakai aturan 90 meter kabel permanen ditambah patch cord hingga 10 meter, jadi total kanal maksimal 100 meter. Lewat dari itu, link mulai tidak stabil walau lampunya masih menyala.

πŸ”₯ Kasus nyata: Sebuah SMK menarik kabel UTP dari lab komputer ke ruang TU sepanjang kira-kira 130 meter tanpa repeater. Link sempat hidup, lalu putus-nyala tiap sore saat ruangan panas. Dua switch diganti, kabel dites ulang berkali-kali. Solusinya bukan perangkat baru, tapi satu switch kecil di tengah jalur supaya tiap segmen di bawah 100 meter.

πŸ”Ή Langkah 9 β€” Uji baseline dan simpan bukti

Sebelum menyimpan, jalankan uji berlapis dari bawah:

  1. Ping sesama PC dalam satu VLAN.
  2. Ping gateway VLAN sendiri.
  3. Ping antar-VLAN (siswa ke guru).
  4. Ping server dari dua VLAN berbeda.
  5. Ping ke alamat ISP.
  6. Buka server web dari PC siswa.

Catat hasilnya di tabel. Itulah baseline-mu: kondisi sehat yang bisa kamu bandingkan saat ada masalah nanti.

πŸ§ͺ Uji cepat: Kalau ping antar-VLAN gagal tapi ping gateway sukses, masalahnya bukan kabel dan bukan VLAN β€” hampir selalu gateway atau ip routing di router.

πŸ”Ή Langkah 10 β€” Versi dan dokumentasi

Simpan file dengan nama yang mengandung kelas dan tanggal, misalnya lab-sekolah-v01-2026-11-01.pkt.

Simpan juga tangkapan layar topologi logis dan fisik. Kalau nanti kamu mengubah sesuatu dan lupa apa yang berubah, gambar lama itu jadi pembanding.

⚠️ Hati-hati: File .pkt terikat versi aplikasi. File dari Packet Tracer versi baru sering tidak bisa dibuka di versi lama β€” termasuk di komputer lab sekolah yang aplikasinya jarang diperbarui. Simpan versi aplikasi di nama file bila perlu.

🏭 Dipakai di dunia kerja

  • Sekolah dan lab TKJ: topologi disusun ulang tiap tahun ajaran. Tanpa tabel port dan skema alamat, siswa baru selalu mengulang kesalahan yang sama, dan guru kehabisan waktu membetulkan hal yang seharusnya sudah beres di kertas.
  • Kantor cabang 30–60 karyawan: satu router, dua switch, satu AP. Yang menentukan lancar atau tidak bukan merek perangkat, tapi disiplin port budget dan pemisahan VLAN tamu dari VLAN kerja.
  • Jasa instalasi dan kontraktor kabel gedung: pekerjaan dinilai dari kerapian panel dan label. Topologi fisik yang jelas membuat penagihan dan serah terima pekerjaan jauh lebih mudah dipertanggungjawabkan.
  • Rumah sakit dan klinik: VLAN memisahkan perangkat medis dari jaringan tamu. Salah menempatkan port berarti alat rekam bisa terlihat dari WiFi pengunjung β€” risiko yang tidak bisa ditutup dengan ganti kabel.
  • ISP dan RT-RW Net: topologi logis adalah dasar penagihan dan pembagian beban. Salah menggambar uplink berarti salah menghitung kapasitas pelanggan.
  • Industri dan pabrik: jaringan produksi dipisahkan dari jaringan kantor. Topologi harus stabil bertahun-tahun, karena mengubah kabel di area mesin berjalan bukan pekerjaan murah.

βœ… Verifikasi

Yang dicek Perintah Hasil sehat
Port hidup show ip interface brief up/up, kecuali port parkir
Port di VLAN benar show vlan brief tiap port sesuai denah
Trunk membawa VLAN show interfaces trunk VLAN 10,20,99 muncul
Tetangga terlihat show cdp neighbors semua perangkat tergambar muncul
Klien dapat alamat show ip dhcp binding IP di dalam pool
Rute keluar ada show ip route S* ke ISP, C ke tiap VLAN
Pohon STP sehat show spanning-tree satu root, port blokir sesuai rencana

Ditambah tiga bukti non-perintah:

  • Tabel port budget terisi lengkap dan cocok dengan kenyataan.
  • Denah alamat tertulis, termasuk blok statis.
  • File .pkt tersimpan dengan nama berversi.

⚠️ Kesalahan umum & troubleshooting

Gejala Seringnya karena Cara memastikan
Uplink tidak menyala salah jenis kabel atau Auto-MDIX mati cek lampu, ganti ke cross-over
Satu ruang mati total uplink ada di port yang dipakai PC show interfaces status
Antar-VLAN gagal gateway atau trunk belum benar show interfaces trunk
Sebagian PC dapat IP aneh ada DHCP kedua (AP mode router) ipconfig di PC, cek AP
Server tidak bisa diakses alamat server di dalam pool DHCP show ip dhcp binding
Lampu nyala, ping gagal VLAN port salah show vlan brief
Link putus-nyala kabel melebihi 100 meter ukur jalur, tambah switch
Perangkat tidak terlihat di CDP kabel salah port atau mati show cdp neighbors detail

Tiga kebiasaan yang menyelamatkan waktu:

  1. Satu perubahan, satu bukti. Ubah satu hal, langsung uji, catat hasilnya.
  2. Uji dari bawah. Fisik dulu, lalu VLAN, lalu alamat, lalu rute, baru layanan.
  3. Jangan menuduh alat. Packet Tracer jarang salah. Yang lebih sering salah adalah asumsi kita tentang apa yang sudah tersambung.

πŸ”₯ Kasus nyata: Sebuah lab sekolah menambah AP baru supaya siswa bisa praktik dari HP. AP dibiarkan pada mode bawaan (router), jadi separuh siswa mendapat alamat 192.168.0.x. Gejalanya menipu: ping ke tetangga sukses, buka server nilai gagal. Dua hari dihabiskan memeriksa server dan kabel, padahal akar masalahnya satu kotak yang salah mode. Perbaikannya: AP dijadikan access point murni, DHCP dimatikan, dan port AP dimasukkan ke VLAN tamu.

πŸ” Catatan keamanan & etika

  • Jangan simpan data nyata di file latihan. File .pkt bisa dibuka siapa pun yang memegangnya. Password asli, nama siswa, dan alamat server sekolah tidak perlu ada di sana.
  • Alamat dokumentasi saja. Pakai blok 192.0.2.0/24, 198.51.100.0/24, atau 203.0.113.0/24 untuk bagian "internet". Jangan memakai alamat milik organisasi lain.
  • Port menganggur dimatikan. Port kosong yang hidup di VLAN 1 adalah pintu tak terkunci. Pindahkan ke VLAN parkir, lalu shutdown.
  • VLAN bukan pengganti izin akses. Pemisahan VLAN hanya memisahkan siaran. Yang benar-benar membatasi siapa boleh ke mana adalah ACL atau firewall.
  • Jangan mengubah file milik orang lain. Berkas latihan teman atau milik lab adalah karya orang. Menyalin untuk belajar boleh; mengubah lalu mengumpulkan sebagai milik sendiri tidak.
  • Perangkat asing jangan dicolok sembarangan. Di lab nyata, satu laptop dengan DHCP server pribadi bisa mengacaukan seluruh ruang. Biasakan bertanya sebelum menambah perangkat di jaringan yang bukan milikmu.

πŸ“Œ Kesimpulan

Topologi lab yang baik lahir dari tiga hal yang tidak terlihat di layar: tabel port, denah alamat, dan urutan pengerjaan.

Packet Tracer hanya menggambar hasilnya.

Kalau kamu membiasakan diri mulai dari kertas, kesalahan yang kamu temui di aplikasi akan jauh lebih sedikit β€” dan yang lebih penting, kebiasaan itu ikut terbawa saat kamu bekerja dengan kabel dan switch sungguhan.

Langkah berikutnya: buka file lab yang sudah kamu buat, lalu coba tambahkan satu ruang baru berisi 12 PC. Hitung ulang port budget-nya sebelum menyeret perangkat apa pun.

πŸ”— Materi terkait

πŸ“š Referensi

  • Cisco Networking Academy, Packet Tracer Help β€” Connections / Links: tutorials.ptnetacad.net
  • Cisco Networking Academy, Packet Tracer Help β€” Physical Workspace dan Wireless Devices: tutorials.ptnetacad.net
  • Cisco, Deploying 10GBASE-T as the Low-Cost Path to the Cloud (batas 90 meter permanent link + 10 meter patch cord): cisco.com
  • IETF, RFC 5737 β€” alamat IPv4 untuk dokumentasi: datatracker.ietf.org