Mikrotik : Praktikum Cek Bridge LAN dengan Bridge Host
Artikel ini adalah praktikum pendamping dari materi Mikrotik : Bridge LAN Dasar. Kalau materi sebelumnya fokus membuat bridge, bagian ini fokus mengecek apakah bridge LAN benar-benar bekerja.
Tujuan
Setelah praktik ini, siswa diharapkan mampu:
- mengecek port mana saja yang sudah masuk ke bridge LAN;
- membaca tabel host pada bridge untuk melihat MAC address client yang terhubung;
- mengecek apakah DHCP Server berjalan di interface bridge;
- membedakan masalah bridge, kabel, DHCP, dan NAT secara sederhana;
- melakukan troubleshooting awal saat client LAN tidak mendapat IP atau tidak bisa internet.
Konteks nyata
Di lab sekolah atau jaringan kecil kantor, satu router MikroTik sering dipakai untuk menghubungkan beberapa komputer lewat port LAN. Misalnya:
- ether1 terhubung ke modem atau ISP sebagai WAN;
- ether2, ether3, dan ether4 dipakai untuk komputer siswa;
- semua port LAN digabung ke `bridge-LAN`;
- DHCP Server dibagikan dari `bridge-LAN`.
Masalah yang sering muncul bukan hanya "konfigurasinya salah", tetapi bisa lebih spesifik:
- port belum dimasukkan ke bridge;
- DHCP Server masih menempel di interface lama, misalnya `ether2`;
- kabel client salah masuk ke port WAN;
- ada loop kabel sehingga jaringan terasa lambat atau putus-nyambung.
Karena itu, teknisi jaringan perlu punya urutan pengecekan yang rapi.
Analogi sederhana
Bayangkan bridge LAN seperti satu ruang kelas besar. Ether2, ether3, dan ether4 adalah pintu-pintu masuk ke ruang itu.
Kalau semua pintu benar-benar menuju ruang yang sama, siswa dari pintu mana pun tetap bisa memakai fasilitas kelas yang sama: papan tulis, listrik, dan koneksi jaringan. Dalam jaringan, "fasilitas kelas" ini bisa berupa DHCP Server, gateway, DNS, dan akses internet.
Tabel bridge host mirip daftar orang yang terlihat masuk dari pintu tertentu. Dari daftar itu, kita bisa tahu client dengan MAC address tertentu sedang terlihat dari port mana.
Kebutuhan awal
Sebelum praktik, siapkan:
- Router MikroTik yang sudah bisa diakses lewat Winbox, WebFig, atau terminal;
- bridge LAN, misalnya `bridge-LAN`;
- minimal dua port LAN yang masuk bridge, misalnya `ether2` dan `ether3`;
- satu atau dua client, misalnya laptop/PC siswa;
- DHCP Server LAN yang berjalan pada interface `bridge-LAN`;
- akses admin yang sah ke router.
Contoh asumsi konfigurasi:
| Bagian | Contoh |
|---|---|
| WAN | ether1 |
| LAN bridge | bridge-LAN |
| Port LAN | ether2, ether3, ether4 |
| IP gateway LAN | 192.168.10.1/24 |
| Pool DHCP | 192.168.10.10-192.168.10.100 |
Langkah praktik
1. Cek daftar bridge
Buka terminal MikroTik, lalu jalankan:
/interface bridge print
Pastikan `bridge-LAN` muncul dan statusnya tidak disabled.
Kalau ingin melihat detail:
/interface bridge print detail
Yang perlu diperhatikan:
- nama bridge sesuai dengan rencana;
- bridge tidak disabled;
- mode STP/RSTP dipahami, terutama kalau jaringan memakai switch tambahan.
2. Cek port yang masuk bridge
Jalankan:
/interface bridge port print
Contoh hasil yang sehat:
Flags: X - disabled, I - inactive, D - dynamic
# INTERFACE BRIDGE HW
0 ether2 bridge-LAN yes
1 ether3 bridge-LAN yes
2 ether4 bridge-LAN yes
Artinya `ether2`, `ether3`, dan `ether4` sudah menjadi anggota `bridge-LAN`.
Kalau client dicolok ke `ether3`, tetapi `ether3` tidak muncul di daftar ini, maka client itu belum benar-benar masuk ke LAN bridge.
3. Cek IP LAN menempel di bridge
Jalankan:
/ip address print
Pastikan IP gateway LAN berada di interface `bridge-LAN`, bukan di salah satu port fisik seperti `ether2`.
Contoh:
ADDRESS NETWORK INTERFACE
192.168.10.1/24 192.168.10.0 bridge-LAN
Kalau IP LAN masih berada di `ether2`, client pada `ether3` atau `ether4` bisa mengalami masalah karena layanan LAN belum benar-benar ditempelkan ke bridge.
4. Cek DHCP Server berjalan di bridge
Jalankan:
/ip dhcp-server print detail
Cari bagian `interface`. Untuk LAN bridge, sebaiknya mengarah ke `bridge-LAN`.
Contoh:
name=dhcp-LAN interface=bridge-LAN lease-time=10m disabled=no
Kalau masih `interface=ether2`, ubah agar DHCP Server melayani seluruh bridge:
/ip dhcp-server set [find name=dhcp-LAN] interface=bridge-LAN
Sesuaikan `dhcp-LAN` dengan nama DHCP Server di router masing-masing.
5. Colok client ke tiap port LAN
Lakukan pengujian sederhana:
- colok laptop ke `ether2`, tunggu mendapat IP;
- pindahkan ke `ether3`, tunggu mendapat IP;
- pindahkan ke `ether4`, tunggu mendapat IP;
- catat apakah semua port memberi hasil yang sama.
Di sisi client, cek IP address. Contoh target hasil:
IP address : 192.168.10.x
Gateway : 192.168.10.1
DNS : sesuai konfigurasi DHCP
6. Cek lease DHCP
Di MikroTik, jalankan:
/ip dhcp-server lease print
Client yang berhasil mendapat IP biasanya muncul sebagai lease dynamic.
Perhatikan:
- IP address client;
- MAC address client;
- status lease;
- hostname jika client mengirim nama perangkat.
7. Cek bridge host table
Setelah client terhubung dan mulai mengirim trafik, jalankan:
/interface bridge host print
Tabel ini membantu melihat MAC address client belajar dari port mana.
Contoh pembacaan sederhana:
MAC-ADDRESS BRIDGE INTERFACE
AA:BB:CC:11:22:33 bridge-LAN ether2
DD:EE:FF:44:55:66 bridge-LAN ether3
Artinya:
- client dengan MAC `AA:BB:CC:11:22:33` terlihat dari `ether2`;
- client dengan MAC `DD:EE:FF:44:55:66` terlihat dari `ether3`;
- keduanya berada di bridge yang sama, yaitu `bridge-LAN`.
Kalau tabel host masih kosong, buat trafik dulu dari client, misalnya ping ke gateway.
8. Tes ping dari client
Dari laptop client, lakukan urutan ini:
ping 192.168.10.1
ping 8.8.8.8
ping google.com
Makna hasil:
- ping ke `192.168.10.1` berhasil: client bisa mencapai gateway LAN;
- ping ke `8.8.8.8` berhasil: jalur internet dasar kemungkinan sudah jalan;
- ping ke `google.com` berhasil: DNS juga berjalan.
Kalau ping gateway gagal, fokus dulu ke bridge, kabel, IP client, dan DHCP. Jangan langsung menyalahkan internet.
Verifikasi
Gunakan checklist berikut:
| Pemeriksaan | Command | Hasil yang diharapkan |
|---|---|---|
| Bridge ada | `/interface bridge print` | `bridge-LAN` muncul dan aktif |
| Port LAN masuk bridge | `/interface bridge port print` | ether2/ether3/ether4 ada di `bridge-LAN` |
| IP LAN di bridge | `/ip address print` | `192.168.10.1/24` berada di `bridge-LAN` |
| DHCP di bridge | `/ip dhcp-server print detail` | DHCP Server memakai `interface=bridge-LAN` |
| Client dapat IP | `/ip dhcp-server lease print` | lease client muncul |
| MAC client terbaca | `/interface bridge host print` | MAC client terlihat dari port yang sesuai |
| Gateway bisa diping | dari client: `ping 192.168.10.1` | reply |
Troubleshooting
Client tidak mendapat IP
Kemungkinan penyebab:
- DHCP Server masih berjalan di `ether2`, bukan `bridge-LAN`;
- port client belum masuk ke bridge;
- kabel atau port fisik bermasalah;
- DHCP Server disabled;
- IP pool habis.
Cek cepat:
/interface bridge port print
/ip dhcp-server print detail
/ip pool print
/ip dhcp-server lease print
Client mendapat IP tetapi tidak bisa ping gateway
Kemungkinan penyebab:
- IP gateway LAN tidak berada di `bridge-LAN`;
- firewall terlalu ketat;
- client mendapat IP dari DHCP lain;
- subnet client tidak sesuai.
Cek:
/ip address print
/ip dhcp-server network print
/ip firewall filter print
Bridge host table kosong
Kemungkinan penyebab:
- client belum mengirim trafik;
- kabel belum terhubung;
- interface masih inactive;
- client berada di port yang bukan anggota bridge.
Coba ping gateway dari client, lalu cek lagi:
/interface bridge host print
Hanya satu port LAN yang berfungsi
Biasanya karena DHCP, IP address, atau kabel hanya terkait ke satu port lama.
Pastikan semua layanan LAN ditempelkan ke bridge, bukan ke port fisik tertentu:
/ip address print
/ip dhcp-server print detail
/interface bridge port print
Jaringan lambat atau putus-nyambung setelah tambah switch
Kemungkinan ada loop Layer 2, misalnya dua kabel dari switch yang sama kembali ke bridge tanpa desain yang benar.
Langkah aman:
- cabut salah satu kabel yang dicurigai membuat loop;
- cek topologi fisik;
- pastikan RSTP aktif bila memang ada switch tambahan;
- jangan menghubungkan dua port LAN router ke switch yang sama tanpa alasan jelas.
Catatan keamanan
- Jangan memasukkan port WAN seperti `ether1` ke bridge LAN kecuali memang paham desainnya. Pada lab dasar, WAN dan LAN sebaiknya dipisah.
- Jangan menjalankan DHCP Server ke arah jaringan ISP atau jaringan publik.
- Saat mengecek bridge host table, perlakukan MAC address dan hostname client sebagai data jaringan internal.
- Di jaringan yang lebih besar, bridge LAN dasar sebaiknya dilanjutkan dengan VLAN, firewall, dan pembatasan akses manajemen router.
- Hindari eksperimen loop kabel di jaringan produksi. Lakukan di lab kecil yang mudah diputus kabelnya.
Kesimpulan
Bridge LAN bukan hanya soal membuat satu interface bridge. Teknisi juga harus bisa membuktikan bahwa port LAN benar-benar masuk bridge, IP gateway dan DHCP Server menempel di bridge, client mendapat lease, dan MAC address client terlihat dari port yang benar.
Urutan cek yang rapi akan menghemat waktu. Mulai dari bridge, port, IP, DHCP lease, bridge host, lalu ping. Dengan begitu, masalah bisa dipersempit tanpa menebak-nebak.
Materi terkait
- Mikrotik : Bridge LAN Dasar
- Mikrotik : DHCP Server untuk LAN
- Mikrotik : Mengecek Lease DHCP Server
- Mikrotik : Praktikum Ping dan Traceroute untuk Cek Gateway dan DNS
- Mikrotik : NAT Masquerade agar Client Bisa Internet