Mikrotik : Static Route Dasar
Static route dasar adalah cara memberi tahu MikroTik jalur menuju jaringan tertentu secara manual.
Kalau materi sebelumnya sudah membuat LAN, DHCP, DNS, NAT, DHCP Client WAN, bridge, dan WiFi, sekarang kita mulai masuk ke routing yang lebih sadar arah. Router tidak hanya tahu jaringan yang langsung menempel di interfacenya, tetapi juga bisa diberi petunjuk: "kalau mau ke jaringan sana, lewat gateway ini."
Analoginya seperti papan penunjuk jalan di sekolah. Dari ruang lab, kamu mungkin tahu jalan ke gerbang utama karena posisinya dekat. Tapi kalau mau ke gedung bengkel lain di belakang, kamu butuh petunjuk: lewat lorong kanan, lalu belok ke pos satpam kedua. Static route adalah papan petunjuk manual itu.
Materi ini fokus ke static route IPv4 dasar untuk lab kecil. Belum membahas policy routing, dynamic routing seperti OSPF/BGP, failover recursive route, atau VRF.
Tujuan
Setelah praktik ini, kamu diharapkan bisa:
- memahami fungsi static route pada MikroTik
- membedakan route connected, default route, dan static route
- membuat static route menuju jaringan remote
- membaca tabel route di RouterOS
- mengecek status route aktif atau tidak
- memverifikasi jalur dengan ping dan traceroute
- mengenali masalah umum seperti gateway salah, subnet salah, dan route tidak aktif
Konteks Nyata
Di jaringan nyata, satu router tidak selalu langsung terhubung ke semua jaringan. Contohnya:
- lab TKJ punya jaringan utama 192.168.10.0/24
- ruang server kecil punya jaringan 192.168.20.0/24
- jaringan CCTV punya jaringan 192.168.30.0/24
- antar-router dihubungkan lewat link point-to-point
Kalau MikroTik di lab ingin mengakses jaringan ruang server yang berada di belakang router lain, MikroTik perlu tahu gateway menuju jaringan itu. Tanpa route, paket bisa bingung: tujuannya ada, tetapi jalan ke sana tidak tercatat.
Static route sering dipakai untuk lab, kantor kecil, koneksi antar-gedung sederhana, jalur menuju router tetangga, atau routing ke subnet khusus yang tidak dibagikan oleh DHCP Client WAN.
Analogi Singkat
Bayangkan MikroTik sebagai petugas pos sekolah. Petugas ini tahu alamat ruangan yang berada di gedungnya sendiri. Itu seperti connected route: jaringan yang langsung menempel pada interface router.
Untuk tujuan umum keluar sekolah, petugas mengirim semua paket ke gerbang utama. Itu seperti default route dengan tujuan 0.0.0.0/0.
Tetapi untuk gedung praktik di belakang yang punya jalur khusus, petugas butuh catatan khusus: "paket ke gedung 192.168.20.0/24 lewat pos satpam 10.10.10.2". Catatan khusus inilah static route.
Kebutuhan Awal
Sebelum mulai, pastikan:
- kamu bisa login ke MikroTik lewat Winbox, WebFig, atau terminal
- IP address interface sudah benar
- ada minimal dua jaringan dalam lab, atau ada router tetangga sebagai gateway
- kamu tahu network tujuan, misalnya 192.168.20.0/24
- kamu tahu IP gateway/next-hop, misalnya 10.10.10.2
- gateway tersebut bisa dijangkau dari MikroTik
Materi prasyarat yang disarankan:
- Mikrotik : Memberikan IP Address pada Interface
- Mikrotik : DNS dan Default Gateway Dasar
- Mikrotik : NAT Masquerade agar Client Bisa Internet
- Mikrotik : DHCP Client untuk Interface WAN
- Mikrotik : Bridge LAN Dasar
Memahami Bentuk Route
Route dasar biasanya punya dua bagian penting:
dst-address = jaringan tujuan gateway = router berikutnya yang dilewati
Contoh:
dst-address=192.168.20.0/24 gateway=10.10.10.2
Artinya:
- kalau ada paket menuju 192.168.20.0 sampai 192.168.20.255
- kirim paket itu ke gateway 10.10.10.2
- gateway 10.10.10.2 harus bisa dijangkau oleh MikroTik
Default route juga sebenarnya route, tetapi tujuannya sangat luas:
0.0.0.0/0
Maknanya: kalau tidak ada route yang lebih spesifik, kirim ke gateway default. Biasanya ini dipakai untuk internet.
Contoh Topologi Praktik
Contoh lab sederhana:
PC LAN A ---- MikroTik A ---- MikroTik B ---- PC LAN B LAN A : 192.168.10.0/24 IP MT A LAN : 192.168.10.1 Link A-B : 10.10.10.0/30 IP MT A link: 10.10.10.1 IP MT B link: 10.10.10.2 LAN B : 192.168.20.0/24 IP MT B LAN : 192.168.20.1
Target kita: MikroTik A dan client LAN A bisa mengenal jalur menuju LAN B.
Di MikroTik A, route yang perlu ditambahkan:
dst-address=192.168.20.0/24 gateway=10.10.10.2
Di MikroTik B, route balik yang perlu ada:
dst-address=192.168.10.0/24 gateway=10.10.10.1
Route balik penting. Kalau hanya satu sisi yang tahu jalan pergi, balasannya bisa tidak sampai. Seperti surat yang berhasil dikirim ke gedung sebelah, tetapi petugas di sana tidak tahu jalan mengirim balasan.
Langkah Praktik
1. Cek IP Address dan Interface
Cek dulu IP yang sudah terpasang:
/ip address print
Pastikan IP link antar-router sudah benar. Contoh di MikroTik A:
10.10.10.1/30 pada interface menuju MikroTik B 192.168.10.1/24 pada bridge-LAN
Cek apakah gateway tetangga bisa diping:
/ping 10.10.10.2
Kalau gateway tetangga belum bisa diping, jangan lanjut dulu. Bereskan IP, kabel, VLAN, bridge, atau interface yang menghubungkan kedua router.
2. Tambahkan Static Route via Terminal
Di MikroTik A:
/ip route add dst-address=192.168.20.0/24 gateway=10.10.10.2 comment="Route ke LAN-B"
Di MikroTik B, tambahkan route balik:
/ip route add dst-address=192.168.10.0/24 gateway=10.10.10.1 comment="Route ke LAN-A"
Sesuaikan alamat jaringan dan gateway dengan topologi kamu.
3. Tambahkan Static Route via Winbox/WebFig
Kalau memakai Winbox atau WebFig:
- buka menu IP lalu Routes
- klik tombol tambah
- isi Dst. Address dengan jaringan tujuan, misalnya 192.168.20.0/24
- isi Gateway dengan IP router berikutnya, misalnya 10.10.10.2
- isi Comment agar mudah dibaca, misalnya Route ke LAN-B
- klik Apply lalu OK
Komentar route sangat membantu saat jumlah route mulai banyak. Di lab sekolah, komentar juga memudahkan guru dan siswa mengecek apakah route dibuat sesuai tugas.
4. Cek Tabel Route
Tampilkan route:
/ip route print
Untuk melihat detail:
/ip route print detail
Route yang sehat biasanya memiliki tanda aktif. Pada RouterOS, route aktif ditandai dengan flag seperti A. Route static biasanya ditandai sebagai route yang dibuat manual.
Contoh yang ingin dilihat:
dst-address=192.168.20.0/24 gateway=10.10.10.2
Kalau route tidak aktif, biasanya gateway tidak bisa dijangkau, interface link bermasalah, atau ada konfigurasi route lain yang lebih cocok.
5. Uji dari Router
Dari MikroTik A, coba ping IP LAN MikroTik B:
/ping 192.168.20.1
Lalu coba traceroute:
/tool traceroute 192.168.20.1
Traceroute membantu melihat paket melewati router mana saja. Untuk lab dua router, biasanya jalurnya pendek: dari MikroTik A ke MikroTik B.
6. Uji dari Client
Dari PC di LAN A, coba ping gateway LAN B atau PC LAN B:
ping 192.168.20.1 ping 192.168.20.10
Kalau ping dari router berhasil tetapi ping dari client gagal, cek:
- gateway client LAN A harus mengarah ke MikroTik A
- gateway client LAN B harus mengarah ke MikroTik B
- firewall forward di kedua router tidak memblokir
- route balik dari MikroTik B menuju LAN A sudah ada
Verifikasi
Gunakan urutan cek berikut:
/ip route print /ping 10.10.10.2 /ping 192.168.20.1 /tool traceroute 192.168.20.1
Makna hasil:
- gateway 10.10.10.2 bisa diping: link antar-router hidup
- route 192.168.20.0/24 muncul dan aktif: static route terbaca RouterOS
- ping 192.168.20.1 berhasil: MikroTik A bisa mencapai LAN B
- traceroute menunjukkan jalur lewat gateway tetangga: arah routing sesuai rencana
- client bisa ping antar-LAN: routing dua arah dan gateway client sudah benar
Untuk melihat route menuju tujuan tertentu, kamu juga bisa memakai:
/ip route check 192.168.20.1
Perintah ini membantu melihat route mana yang dipakai RouterOS untuk mencapai alamat tujuan.
Troubleshooting
Gateway Tidak Bisa Diping
Kemungkinan penyebab:
- kabel antar-router belum terpasang
- IP address di link antar-router salah subnet
- interface masih disabled
- VLAN atau bridge salah tempat
- firewall input di router tetangga memblokir ping
Cek:
/interface print /ip address print /ping 10.10.10.2
Static route butuh gateway yang bisa dijangkau. Kalau gateway saja belum bisa diping, route ke jaringan belakangnya hampir pasti gagal.
Route Tidak Aktif
Kemungkinan penyebab:
- gateway tidak reachable
- gateway ditulis salah
- interface menuju gateway down
- ada konfigurasi routing table yang tidak sesuai
Cek detail:
/ip route print detail
Untuk praktik dasar, pakai routing table utama terlebih dahulu. Jangan langsung masuk policy routing kalau konsep static route biasa belum beres.
Ping Router Tujuan Bisa, Ping Client Tidak Bisa
Kemungkinan penyebab:
- client tujuan memakai gateway yang salah
- firewall di client menolak ping
- route balik belum ada
- subnet mask client salah
Cek dari kedua sisi. Routing itu dua arah: paket pergi dan paket balasan harus sama-sama punya jalur.
Salah Menulis Network Tujuan
Contoh salah:
dst-address=192.168.20.1/24
Untuk route menuju satu jaringan, tulis network-nya:
dst-address=192.168.20.0/24
Kalau hanya ingin menuju satu host tertentu, barulah memakai /32:
dst-address=192.168.20.10/32
Default Route Mengalahkan Static Route?
Dalam routing, route yang lebih spesifik biasanya dipilih lebih dulu. Route 192.168.20.0/24 lebih spesifik daripada 0.0.0.0/0.
Jadi, kalau static route /24 benar dan aktif, paket ke 192.168.20.x seharusnya mengikuti static route itu, bukan lari ke default route internet.
Kalau hasilnya aneh, cek:
/ip route check 192.168.20.1 /ip route print detail
Catatan Keamanan
Static route bukan firewall. Route hanya memberi tahu jalan, bukan menentukan siapa yang boleh lewat.
Hal yang perlu diperhatikan:
- jangan membuat route ke jaringan internal kalau aksesnya memang tidak boleh dibuka
- setelah routing antar-LAN berhasil, atur firewall filter sesuai kebutuhan
- batasi akses manajemen router dari jaringan yang tidak dipercaya
- beri komentar pada route agar admin berikutnya paham tujuan route tersebut
- dokumentasikan topologi, IP link, dan network tujuan
- hapus atau nonaktifkan route lab yang sudah tidak dipakai agar tidak membingungkan
Di jaringan sekolah atau kantor, routing yang terlalu terbuka bisa membuat jaringan tamu, CCTV, lab, dan server saling terlihat tanpa kontrol. Routing membuat jalan; firewall menentukan aturan lewatnya.
Kesimpulan
Static route dasar dipakai saat MikroTik perlu mengenal jalur menuju jaringan yang tidak langsung menempel pada interfacenya. Konsep utamanya sederhana: tentukan jaringan tujuan, tentukan gateway berikutnya, lalu pastikan route pergi dan route balik sama-sama tersedia.
Kalau gateway bisa diping, route aktif, ping ke jaringan remote berhasil, dan traceroute menunjukkan jalur yang benar, berarti static route dasar sudah berjalan. Setelah ini, materi berikutnya yang cocok adalah firewall filter agar jalur yang sudah terbuka bisa diatur dengan lebih aman.
Materi terkait
- Mikrotik : Memberikan IP Address pada Interface
- Mikrotik : DNS dan Default Gateway Dasar
- Mikrotik : Bridge LAN Dasar
- Mikrotik : Wireless/AP Dasar
- Mikrotik : Praktikum Ping dan Traceroute untuk Cek Gateway dan DNS