Mikrotik : Praktikum Cek Static Route dengan Route Check dan Traceroute
Static route yang sudah dibuat belum tentu langsung benar. Kadang route terlihat ada, tetapi paket tetap nyasar, mentok di gateway, atau bisa pergi tetapi tidak bisa pulang. Praktikum ini fokus ke cara mengecek static route memakai route list, route check, ping, dan traceroute.
Materi ini adalah pendamping dari Mikrotik : Static Route Dasar. Kalau artikel pagi itu ibarat belajar menggambar peta jalan, artikel ini ibarat latihan membaca peta sambil mengecek apakah kendaraan benar-benar lewat jalur yang kita maksud.
Tujuan
Setelah praktik ini, kamu diharapkan bisa:
- mengecek apakah static route aktif atau belum
- membaca gateway dan interface keluar dari route
- memakai ping untuk mengecek hidup atau tidaknya jalur
- memakai traceroute untuk melihat paket berhenti di hop mana
- membedakan masalah route pergi, route balik, gateway, NAT, dan firewall
Konteks nyata
Bayangkan ada dua lab:
- Lab A memakai jaringan `192.168.10.0/24`
- Lab B memakai jaringan `192.168.20.0/24`
- Router A dan Router B terhubung lewat jalur antar-router `10.10.10.0/30`
Static route dibuat supaya komputer di Lab A bisa mengakses komputer di Lab B. Masalahnya, cukup sering siswa hanya membuat route di satu sisi. Akibatnya paket dari Lab A bisa sampai ke Lab B, tetapi balasannya tidak tahu jalan pulang.
Dalam jaringan nyata, ini mirip kendaraan dari bengkel A sudah punya papan petunjuk menuju bengkel B, tetapi bengkel B belum punya papan petunjuk untuk jalur balik ke bengkel A.
Analogi sederhana
Routing table itu seperti peta jalan di pos satpam router.
- `dst-address` adalah alamat tujuan, misalnya gang atau blok yang ingin dicapai.
- `gateway` adalah gerbang berikutnya yang harus dilewati.
- route aktif berarti papan petunjuknya bisa dipakai.
- route tidak aktif berarti papan petunjuknya ada, tetapi gerbangnya belum jelas atau tidak terjangkau.
- traceroute seperti mengikuti kendaraan dari pos ke pos untuk tahu berhenti di mana.
Jadi saat koneksi gagal, jangan langsung menebak. Baca dulu peta, cek gerbang, lalu ikuti jalur paketnya.
Prasyarat
Sebelum praktik, pastikan:
- sudah paham materi Mikrotik : Static Route Dasar
- router sudah punya IP address pada interface yang dipakai
- jaringan antar-router sudah bisa saling ping pada IP yang satu segmen
- kamu punya akses Winbox, WebFig, atau terminal RouterOS
- praktik dilakukan di lab sendiri, bukan router produksi sekolah tanpa izin
Contoh topologi yang dipakai:
PC-A -- Lab A -- Router A -- 10.10.10.0/30 -- Router B -- Lab B -- PC-B Router A LAN : 192.168.10.1/24 Router A link: 10.10.10.1/30 Router B link: 10.10.10.2/30 Router B LAN : 192.168.20.1/24
Langkah praktik
1. Cek IP address router
Di masing-masing router, cek dulu IP address:
/ip address print
Pastikan IP LAN dan IP link antar-router sudah benar. Kalau IP dasar saja salah, static route sebagus apa pun tetap tidak akan membantu.
Pada contoh:
- Router A harus punya `192.168.10.1/24` dan `10.10.10.1/30`
- Router B harus punya `192.168.20.1/24` dan `10.10.10.2/30`
2. Cek route yang sudah ada
Di Router A:
/ip route print
Cari route menuju Lab B:
dst-address=192.168.20.0/24 gateway=10.10.10.2
Di Router B, cari route balik menuju Lab A:
dst-address=192.168.10.0/24 gateway=10.10.10.1
Kalau hanya ada route di Router A, jangan heran kalau ping dari Lab A ke Lab B gagal atau hanya jalan sebagian. Balasan dari Lab B belum tahu harus pulang lewat mana.
3. Cek apakah gateway bisa dijangkau
Dari Router A, ping IP link Router B:
/ping 10.10.10.2 count=5
Dari Router B, ping IP link Router A:
/ping 10.10.10.1 count=5
Kalau ping antar-router ini gagal, perbaiki dulu IP address, kabel, bridge, VLAN, atau interface. Static route butuh gateway yang bisa dijangkau.
4. Pakai route check untuk tujuan tertentu
Route list memberi daftar peta. Route check membantu melihat jalur untuk satu alamat tujuan.
Di Router A:
/ip route check 192.168.20.10
Yang ingin dicari:
- gateway mengarah ke `10.10.10.2`
- interface keluar sesuai link antar-router
- route tidak jatuh ke default route yang salah
Di Router B:
/ip route check 192.168.10.10
Kalau hasil route check tidak sesuai, kemungkinan `dst-address` salah, prefix terlalu lebar/sempit, gateway salah, atau ada route lain yang lebih spesifik.
5. Ping dari router ke jaringan seberang
Dari Router A, ping IP LAN Router B:
/ping 192.168.20.1 count=5
Dari Router B, ping IP LAN Router A:
/ping 192.168.10.1 count=5
Kalau ping ke IP router seberang berhasil, jalur antar-router sudah mulai sehat.
Lanjutkan ping ke client:
/ping 192.168.20.10 count=5
Kalau ping ke router seberang berhasil tetapi ke client gagal, cek IP client, gateway client, firewall client, dan apakah client benar-benar aktif.
6. Traceroute untuk melihat paket berhenti di mana
Dari Router A:
/tool traceroute 192.168.20.10
Hasil yang sehat biasanya menunjukkan paket lewat gateway Router B, lalu menuju jaringan Lab B.
Kalau traceroute berhenti di Router A, route menuju jaringan seberang belum benar. Kalau berhenti di Router B, masalahnya mungkin route balik, firewall, atau client tujuan.
7. Tes dari client
Dari PC-A, coba:
ping 192.168.20.1
ping 192.168.20.10
tracert 192.168.20.10
Di Linux, perintah traceroute biasanya:
traceroute 192.168.20.10
Kalau router bisa ping tetapi client tidak bisa, cek default gateway client. PC-A harus memakai Router A sebagai gateway, dan PC-B harus memakai Router B sebagai gateway.
Verifikasi hasil
Praktikum dianggap berhasil kalau:
- `/ip route print` menampilkan static route pergi dan route balik
- route menuju jaringan seberang aktif
- ping antar-router pada link transit berhasil
- `/ip route check` memilih gateway yang benar
- ping dari router ke IP LAN router seberang berhasil
- ping antar-client berhasil
- traceroute menunjukkan jalur melewati router yang sesuai topologi
Checklist cepat:
/ip address print
/ip route print
/ip route check 192.168.20.10
/ping 10.10.10.2 count=5
/ping 192.168.20.1 count=5
/tool traceroute 192.168.20.10
Untuk Router B, balikkan alamat tujuannya ke jaringan Lab A.
Troubleshooting
Route ada tetapi tidak aktif
Kemungkinan gateway tidak reachable. Cek:
/ping 10.10.10.2 count=5
/ip address print
Pastikan gateway berada di jaringan yang bisa dicapai router, bukan alamat yang jauh tanpa route pendukung.
Ping antar-router berhasil, tetapi jaringan seberang gagal
Biasanya route menuju network tujuan salah atau route balik belum dibuat.
Cek Router A:
/ip route print where dst-address=192.168.20.0/24
Cek Router B:
/ip route print where dst-address=192.168.10.0/24
Ingat prinsipnya: jalan pergi dan jalan pulang sama-sama harus ada.
Router bisa ping, client tidak bisa
Cek default gateway client. PC-A harus mengarah ke `192.168.10.1`, PC-B harus mengarah ke `192.168.20.1`.
Kalau memakai DHCP Server, cek lease dan network DHCP:
/ip dhcp-server lease print
/ip dhcp-server network print
Traceroute berhenti di router seberang
Kemungkinan paket sudah sampai ke router seberang, tetapi tidak sampai ke client atau balasannya ditahan.
Cek:
- IP dan subnet mask client tujuan
- default gateway client tujuan
- firewall di client
- firewall filter di MikroTik
- apakah client sedang menyala dan terhubung ke interface yang benar
Route check memilih jalur yang tidak diharapkan
Bisa jadi ada route lain yang lebih spesifik, distance lebih kecil, atau default route ikut menangkap trafik.
Cek semua route:
/ip route print detail
Untuk siswa, fokus dulu ke tiga hal: `dst-address`, `gateway`, dan apakah route aktif.
Catatan keamanan
Static route hanya mengatur jalur. Static route bukan firewall.
Kalau dua jaringan lab sudah bisa saling akses, berarti perangkat di kedua sisi mungkin bisa saling mencoba koneksi. Di lab ini berguna untuk belajar, tetapi di jaringan sekolah atau kantor harus tetap ada aturan firewall.
Prinsip aman:
- jangan membuat route ke jaringan yang bukan milikmu
- jangan menghubungkan jaringan tamu langsung ke jaringan admin tanpa firewall
- batasi akses manajemen router hanya dari jaringan admin
- dokumentasikan route agar teknisi lain tidak bingung saat troubleshooting
- lakukan perubahan routing di lab atau window maintenance kalau jaringan dipakai banyak orang
Kesimpulan
Static route yang benar harus bisa dibuktikan, bukan hanya terlihat ada di menu Routes. Urutan cek yang rapi adalah: cek IP address, cek route, cek gateway, pakai route check, ping, lalu traceroute.
Kalau diibaratkan bengkel jaringan, static route adalah papan petunjuk. Route check membaca papan itu, ping mengecek apakah tujuan menjawab, dan traceroute menunjukkan pos mana saja yang dilewati kendaraan. Dengan pola cek seperti ini, troubleshooting jadi lebih tenang dan tidak asal tebak.
Materi terkait
- Mikrotik : Static Route Dasar
- Mikrotik : Praktikum Ping dan Traceroute untuk Cek Gateway dan DNS
- Mikrotik : DNS dan Default Gateway Dasar
- Mikrotik : NAT Masquerade agar Client Bisa Internet
- Mikrotik : DHCP Server untuk LAN